Split Bill, Bagaimana Fenomenanya? 

Sering mendengar kalimat split bill yang sering dibicarakan di berbagai platform dan ruang diskusi? Fenomena split bill sering dikaitkan dengan kesetaraan gender. Kalau mau setara ya artinya mau dong split bill, biar adil dan setara, begitu kata banyak orang. Tapi pertanyaannya adalah adil untuk siapa? Dan bagaimana fenomena split bill berlangsung?

Split bill adalah berbagi tagihan berdasarkan jumlah pengeluaran masing-masing orang. Tagihan ini bisa dibayarkan sama rata atau berdasarkan porsi makan maupun kesepakatan pihak terkait. Cara-cara pembayaran ini biasa digunakan ketika seseorang sedang nongkrong bersama teman maupun pasangan. Praktik ini berlangsung di kalangan anak muda urban yakni membagi biaya makan maupun aktivitas bersama. Trend split bill semakin berkembang ketika banyak pihak menggunakan aplikasi dating apps sebagai salah satu aplikasi kencan yang digunakan untuk mencari teman maupun pasangan. Hingga saat ini split bill banyak dibicarakan seiring berkembangnya platform media sosial. Termasuk soal pergeseran nilai-nilai sosial dan budaya yang ada di masyarakat yang digunakan sebagai simbol kesetaraan. 

Split bill dianggap sebagai simbol dari kesetaraan gender, kemandirian, dan relasi yang lebih egaliter. Jika berbicara setara maka topik split bill tidak pernah terelakkan. Membagi tagihan dengan nominal yang sama dianggap sebagai bentuk penghormatan satu sama lain yaitu tidak ada yang dibebani atau tidak ada yang merasa “berhutang budi”. Namun praktiknya hal tersebut tidak selalu netral. Dalam konteks hubungan heteroseksual, laki-laki dianggap mampu untuk membayar semua tagihan, pun sebaliknya jika perempuan menawarkan membayar semua tagihan, ia akan dianggap “terlalu mandiri” dan melukai harga diri laki-laki. Konsep menciptakan ruang yang abu-abu kesetaraan yang sangat berkaitan erat pada sisi laindan berhubungan dengan ekspektasi gender  tradisional. 

Split Bill Berhubungan Dengan Gender Pay Gap 

Di permukaan, split bill nampaknya adil dan setara? Tapi bagaimana jika melihat realitas ekonomi yang timpang pada masyarakat di Indonesia? Terutama perempuan di Indonesia yang masih menghadapi gender pay gap. Di dalam gender pay gap, ada selisih pendapatan gaji antara perempuan dan laki-laki. Gender pay gap ini akan mempengaruhi bagaimana split bill dilakukan maupun disepakati berdasarkan pendapatan dan kondisi ekonomi laki-laki dan perempuan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 melaporkan bahwa perempuan di Indonesia dibayar lebih murah 23% daripada laki-laki di sektor pekerjaan yang sama. Fakta tersebut menunjukkan adanya gender pay gap di sektor yang sama. Gender Pay Gap adalah kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan di tempat kerja, dengan umumnya laki-laki menerima upah lebih banyak daripada perempuan. Faktor tersebut terjadi bukan karena perempuan tidak pintar atau kurang bekerja keras, tetapi didasari oleh banyak faktor yang kemudian mempengaruhi adanya gender pay gap. Faktor tersebut terjadi karena tidak adanya akses untuk melamar pekerjaan, sedikitnya promosi, diskriminasi, stereotip peran gender, hingga pekerjaan domestik yang tidak dibayar.

Hal tersebut menunjukkan bahwa masih banyak perempuan yang terdampak dengan adanya gender pay gap. Tidak hanya berhenti di gender pay gap saja, perempuan juga harus menanggung peran ganda. Perempuan dibebankan untuk bisa mengurus anak, melakukan pekerjaan domestik, dan masih harus bekerja di sektor formal maupun informal. Pekerjaan domestik yang tidak diakui oleh ekonomi itu tidak memiliki upah, artinya perempuan harus melakukan pekerjaan domestik secara sukarela. Sebagai contoh, seorang perempuan bekerja di kantor dan pulang ke rumahnya pukul 6 sore, namun dia masih harus memasak untuk keluarganya, mengurus anak, membersihkan rumah,. Sedangkan laki-laki jarang sekali yang melakukan pekerjaan domestik setelah pulang kerja, artinya dari hal ini saja ada perbedaan peran gender. Perempuan mengalami kelelahan berlebih sehingga dia tidak bisa secara maksimal melakukan pekerjaan di sektor formal maupun informal, karena hal tersebut perempuan rentan mengalami yang namanya diskriminasi karena dianggap terlalu lemah untuk melakukan pekerjaan, sehingga akhirnya kesempatan itu diberikan untuk laki-laki karena dianggap lebih maksimal dalam melakukan pekerjaan tersebut. 

Berbicara lebih luas lagi perihal pembagian dalam hal finansial, jika laki-laki menerima upah lebih banyak daripada perempuan dan perempuan menerima upah yang lebih rendah, pembagiannya mestinya tidak dibagi menjadi sama. Jika dalam suatu hubungan laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan pendapatan yang signifikan, maka pembagian finansial seperti split bill seharusnya mempertimbangkan proporsi pendapatan dan juga peran masing-masing, bukan sekadar membagi rata. Membagi tagihan secara 50:50 tanpa melihat konteks ekonomi, beban kerja, dan peran sosial masing-masing pihak justru bisa menjadi bentuk ketidakadilan yang terselubung.

Kontribusi yang Mempertimbangkan Pendapatan dan Kesepakatan

Kesadaran finansial dalam hubungan tidak hanya soal siapa yang membayar lebih, tapi bagaimana kedua pihak bisa saling mendukung dan memahami kondisi masing-masing. Jika laki-laki memiliki penghasilan lebih tinggi dan beban kerja domestik lebih sedikit , maka tidak ada salahnya ia menanggung porsi yang lebih besar dalam pengeluaran bersama. Sebaliknya, jika perempuan memiliki penghasilan lebih tinggi, ia pun bisa memilih untuk berkontribusi lebih besar, selama itu dilakukan dengan kesepakatan dan tanpa paksaan. Yang perlu dihindari adalah standar kaku yang mengharuskan semua orang membayar sama, tanpa mempertimbangkan konteks. Split bill bisa menjadi adil jika dilakukan dengan kesadaran dan komunikasi yang terbuka. Namun, jika dilakukan secara otomatis dan tanpa refleksi, ia bisa menjadi bentuk ketidakpuasan terhadap ketimpangan yang ada.

Untuk menciptakan relasi hubungan yang sehat dan adil, kita bisa mulai dengan menggeser cara pandang kita bahwa “setara bukan berarti berarti sama” menjadi “setara berarti adil”. Adil bukan berarti semua orang membayar jumlah yang sama, tapi semua orang berkontribusi sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.

Split bill mungkin terlihat sederhana, sekadar membagi tagihan sama rata. Tapi realitanya, di balik praktik itu, tersimpan pertanyaan besar tentang keadilan, kesetaraan, dan empati. Ketika perempuan masih dibayar lebih rendah, memikul peran ganda, dan menghadapi diskriminasi struktural, maka membagi tagihan secara merata bukanlah solusi yang adil untuk perempuan. Justru ini menunjukkan bahwa perempuan mengalami kerentanan yang berlapis dalam dunia kerja maupun relasi romantis. Kesetaraan bukan berarti tentang membagi sama rata, tapi tentang membongkar kerentanan yang dialami oleh perempuan, serta tentang memahami dan menghargai perbedaan. Dalam relasi, baik romantis maupun sosial, kita perlu membangun budaya komunikasi yang terbuka, saling mendukung, dan tidak memaksakan standar yang seragam. Split bill bisa tetap relevan, asal dilakukan dengan kesadaran dan proporsionalitas.

Jadi, sebelum kita berkata “kalau mau setara ya split bill dong,” mari kita bertanya lebih dulu: Setara untuk siapa? Karena keadilan sejati bukan soal angka, tapi soal keberpihakan pada ketimpangan yang dialami oleh perempuan.

Referensi : 

  1. Badan Pusat Statistik. (2024, Mei 6). Indonesia’s Gender Inequality Index (GII) notably declined to 0.447, continuing steady progress in gender equalityhttps://www.bps.go.id/id/pressrelease/2024/05/06/2387/indonesias-gender-inequality-index–gii–notably-declined-to-0-447–continuing-steady-progress-in-gender-equality.
  2. HRnesia. (n.d.). Kesenjangan upah gender. https://hrnesia.com/edukasi/kesenjangan-upah-gender/
  3. Muna, M Nailul. Mubadalah. (2023, Oktober 24). Membongkar mitos split bill bagi perempuan: Sebuah narasi kesetaraan laki-laki. Mubadalah. https://mubadalah.id/membongkar-mitos-split-bill-bagi-perempuan-sebuah-narasi-kesetaraan-laki-laki/

Profil singkat: Dita Nirmala, seorang feminist  yang aktif menyuarakan isu perempuan dan kesetaraan, suka memasak dan animal lovers.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren