Pada hari Sabtu, 18 April 2026, berlangsung rangkaian pertama kegiatan Program “Dari Mata Perempuan: Belajar dan Berkarya dari Film-Film Karya Sutradara Perempuan Indonesia”. Film yang diputar dalam pertemuan pertama ini adalah Film “Dua Garis Biru” (2019) karya Sutradara Gina S. Noer. Diskusi tentang film ini dipandu oleh Himas Nur Rahmawati, seorang dosen di Program Studi Film dan Televisi di ISI Yogyakarta dan Pengamat Gender sekaligus Direktur PERCA Resource Center for Women and Girls, Fitri Indra Harjanti.
Film “Dua Garis Biru” (2019) karya Gina S. Noer menceritakan tentang kisah cinta dua remaja, Bima dan Dara. Kisah cinta mereka tidak hanya tentang tawa dan cerita bahagia, tetapi juga tentang risiko yang harus dihadapi remaja ketika membuat keputusan yang khas, terburu, dan buta. Film ini bukan hadir untuk kembali menyalahkan, tapi untuk melihat kembali dengan lebih utuh.
Diskusi dibuka dengan refleksi yang dipantik oleh Himas mengenai pengalaman peserta ketika menonton, baik menonton kali pertama maupun yang sudah menonton ke sekian kalinya. Dari dua pengalaman berbeda tersebut, ada kesamaan rasa yang dialami oleh peserta. Beberapa peserta mengungkapkan perasaan yang kompleks, perasaan yang intens, dan empati terhadap yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam film.
Evolusi yang Mencerminkan Kedewasaan Perspektif
Peserta yang telah beberapa kali menonton film “Dua Garis Biru” menceritakan perubahan perspektif, menurut penuturan mereka hal ini terjadi seiring bertambahnya usia dan pengetahuan serta pengalaman hidup mereka. Banyak peserta yang mengamati bahwa penonton yang menyaksikan film ini di masa remaja akan menangkap pesan yang sangat berbeda ketika menontonnya kembali pada masa dewasa. Perubahan ini mencerminkan perkembangan ideologi (nilai yang diyakini), pemahaman akan proses ketubuhan, serta sensitivitas terhadap isu-isu sosial yang ada di masyarakat; beberapa hal yang dulunya dianggap tabu atau membingungkan, kini menjadi lebih kontekstual dan dapat dilihat kembali secara kritis.
Pendidikan Seks sebagai Pengetahuan Penting
Himas Nur Rahmawati menyoroti bahwa film ini berhasil mengangkat wacana mengenai pendidikan seks yang selama ini dianggap tabu, dibicarakan secara diam-diam dan penuh hambatan normatif. Keadaan ini menuntun pada kerapuhan pengetahuan remaja, yang sebenarnya memiliki berjuta rasa penasaran dan dorongan hormonal naluriah. Akibatnya, hubungan seksual seringkali dijalani tanpa lensa yang komprehensif. Secara khusus untuk perempuan bisa membawa irreversible risk, yaitu Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD).
Dalam diskusi muncul kesadaran bahwa pendidikan seks seharusnya tidak berhenti pada usaha preventif, melainkan harus komprehensif. Penekanan moral tanpa penjelasan ilmiah dan pendekatan yang empatik berisiko mendorong eksplorasi yang tidak bertanggung jawab, berkebalikan dengan tujuan perlindungan kepada remaja, khususnya remaja perempuan.
KTD adalah Kondisi yang Kompleks
Fitri Indra Harjanti memaparkan bahwa film ini memperlihatkan dampak KTD secara kompleks, melampaui masalah moral. Diskusi menggarisbawahi adanya diskriminasi gender dan beban berlapis yang harus ditanggung oleh perempuan dalam kejadian KTD. Beban ini mencakup stigma sosial, ancaman putus akses sekolah, hingga ekspektasi untuk memikul tanggung jawab domestik yang lebih besar dibandingkan laki-laki.
Ketimpangan kelas sosial juga menjadi variabel krusial yang mempengaruhi pilihan hidup karakter dalam film. Dalam film, digambarkan Dara akan memulai lembaran baru hidupnya di Korea Selatan; ia akan melanjutkan pendidikan tinggi dan mengembangkan mimpinya di negara baru. Skenario ini akan sangat berbeda bagi perempuan miskin, pilihan seringkali menjadi sangat terbatas. Pilihan yang tersisa adalah segera menikah demi kelangsungan hidup dan tetap diterima di lingkungan sosial, yang justru berisiko menjebak mereka dalam situasi rentan. Isu KTD memang milik semua kalangan, tetapi bagi perempuan miskin, kerentanan akan berlipat dan pahit.
Analisis Film: Kekuatan Female Gaze dan Pematahan Stereotip
Dalam aspek sinematik, Himas mengutarakan apresiasinya karena sutradara menerapkan female gaze yang kuat. Hal ini terlihat dari penggambaran tokoh Dara yang memiliki agensi dan tidak dikecilkan dalam sebuah karakter satu dimensi. Dara adalah perempuan muda yang berbuat salah, berefleksi akan tindakannya, dan bergerak membuat perubahan yang dia inginkan. Dara mencintai kekasihnya, menangis sedih, dan tertawa bahagia dalam situasi sulit bersama dengan teman-teman perempuannya. Sementara itu, Fitri mengungkapkan bahwa tokoh-tokoh dalam film ini berhasil mematahkan pelabelan gender yang kaku, misalnya dengan menampilkan sosok ayah yang mampu membangun kedekatan emosional dengan anak, serta peran ibu yang digambarkan tegas dan rasional.
Salah satu poin yang paling menonjol adalah bagaimana film ini menutup cerita dengan ending yang tidak mainstream, yang mematahkan bias gender tradisional, dengan menampilkan pengasuhan anak yang akan dilakukan oleh pihak laki-laki (Bima dibantu oleh keluarganya). Ini merupakan salah satu ruang yang disediakan film ini bagi penonton untuk merenungkan kembali nilai-nilai feminisme yang lembut, tidak bias gender, dan menghargai proses personal.
Diskusi ini menyimpulkan bahwa film “Dua Garis Biru” merupakan karya yang berhasil memicu dialog penting mengenai bagaimana masyarakat seharusnya memandang remaja dan perempuan, tidak sebagai sosok/objek yang harus disalahkan, melainkan sebagai individu/subjek yang berhak mendapatkan dukungan berupa sistem yang adil dan penuh kasih.
Demikian gambaran singkat diskusi film pertama dari serial diskusi film karya sutradara perempuan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Program “Dari Mata Perempuan: Belajar dan Berkarya dari Film-Film Karya Sutradara Perempuan Indonesia” yang diselenggarakan oleh PERCA Resource Center for Women and Girls dengan dukungan pendanaan dari Program Layanan Produksi Kegiatan Kebudayaan untuk Kategori Sinema Indonesia dalam Lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 dari Dana Indonesiana, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Profil Penulis: Rini Rahmadhani adalah perempuan yang memimpikan setiap perempuan bisa belajar, bekerja, dan bermain dengan antusias dan aman. Dalam upayanya mewujudkan itu, ia aktif belajar feminisme dan terlibat dalam kerja-kerja penghapusan kekerasan berbasis gender. Untuk terhubung dengan Rini bisa melalui akun instagram @camerarini atau email rinrinirahma@gmail.com.
Ilustrasi: Lucy Andalusia





Tinggalkan komentar