Setiap tanggal 30 Juli, dunia memperingati Hari Anti-Perdagangan Orang. Tetapi bagi saya, ini bukan sekadar momen seremonial. Ini momen yang seharusnya membuat kita semua, terutama kita perempuan muda berhenti sejenak dan bertanya, apakah kita sudah cukup peduli?                                                                                                                                  

Perdagangan orang bukan isu yang jauh. Ia bukan hanya terjadi di film atau berita. Ia ada di sekitar kita, menyasar orang-orang yang tidak asing, anak-anak perempuan yang datang dari desa dengan impian ingin bantu orang tua, remaja yang ingin mandiri, atau mahasiswa yang sedang mencari magang di luar negeri. Modusnya makin hari makin halus. Bukan lagi penculikan terang-terangan, tapi lewat pesan WhatsApp, iklan di Instagram, —atau ajakan lewat kenalan yang tahu  jalur cepat ke luar negeri. “Kerja ringan, gaji besar, tidak perlu ijazah tinggi”,  begitulah kira-kira bunyi iklannya. Tapi realitanya, yang mereka incar bukan hanya tenaga, tapi tubuh dan keringatmu untuk dieksploitasi. 

  Menurut data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI), Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengungkapkan bahwa 97% korban perdagangan orang di Indonesia pada 2019-2023 adalah perempuan dan anak. Selain itu, International Organization for Migration (IOM) juga melaporkan data perdagangan anak selama dua puluh tahun menunjukkan bahwa anak-anak berisiko lebih tinggi untuk diperdagangkan dibandingkan dengan orang dewasa, terutama jika mereka berasal dari daerah berpenghasilan rendah atau rawan bencana. Di sisi lain, perempuan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kekerasan berbasis gender selama perjalanan migrasi mereka.

Mereka dipaksa bekerja sebagai pembantu rumah tangga tanpa diberikan upah, mereka dijadikan pengantin pesanan, bahkan dijebak dalam jaringan eksploitasi seksual. Banyak di antara mereka adalah remaja yang baru lulus sekolah. Ada juga yang masih anak-anak.

Mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka jalani merupakan bagian dari kejahatan besar, karena semuanya dibungkus rapi dengan kata-kata kerja halal, rezeki dari luar negeri, atau kesempatan emas. Sebagai anak muda, kita seharusnya sadar, bukan berarti dengan kita melek internet atau bisa cek Google, kita sudah merasa aman. Justru karena kita aktif di media sosial, kita juga sering mencari peluang belajar dan bekerja lewat online, maka kita juga rentan. Apalagi kalau sedang dalam situasi ekonomi sulit, atau punya impian besar yang belum tercapai. 

Ada yang Bergerak di Tengah Gelap

Saya pernah mendengar kisah dari sebuah komunitas bernama Talitha Kum Indonesia. Selama bertahun-tahun, komunitas tersebut mendampingi para korban perdagangan orang, terutama perempuan dan anak-anak. Mereka datang dari berbagai latar belakang iman dan profesi, tetapi bersatu karena satu hal yakni ingin memulihkan martabat manusia yang dirampas. Yang mereka lakukan bukan saja menyelamatkan korban, namun juga mencegah supaya tidak ada korban baru ke depannya.

Mereka menyusun modul pendidikan, serta mengadakan kampanye pada sekolah dan kampus. Komunitas ini melibatkan anak muda sebagai youth ambassador atau duta muda yang menjadi penggerak perubahan di komunitas mereka masing-masing. Saya teringat satu kalimat yang disampaikan salah satu suster di Talitha Kum Indonesia: “Perempuan bukan untuk dijual, anak bukan untuk diperdagangkan. Mereka adalah wajah Allah yang harus dijaga.” Kalimat itu menggema dalam hati saya. Karena di tengah dunia yang kerap mengabaikan luka-luka perempuan dan anak, mereka hadir dengan keteguhan, lembut tapi tidak mau berkompromi dengan ketidakadilan.  

Kita hidup di zaman yang penuh peluang dan penuh jebakan. Ketika kamu melihat iklan lowongan kerja atau magang yang tampak terlalu indah, jangan langsung percaya. Cek dulu siapa yang merekrut? Apakah ada kontrak yang jelas? Apakah ada testimoni yang bisa diverifikasi? Dan kalau hatimu merasa ragu, percayalah pada intuisimu. Karena begitu kamu masuk ke lingkaran perdagangan orang, jalan keluarnya akan sangat sulit. Banyak korban yang kehilangan kontak dengan keluarga, kehilangan dokumen, bahkan kehilangan rasa percaya pada diri sendiri. 

Kita Bisa Menjadi Bagian dari Perubahan 

Melawan perdagangan orang bukan tugas polisi atau pemerintah saja. Ini menjadi tugas kita semua. Kita bisa memulainya dari menyuarakan fakta-fakta ini di media sosial, dengan cara demikian, kita juga dapat mengedukasi teman-teman lain, atau bergabung dengan komunitas yang sudah lebih dulu bergerak. Kalau kamu aktif di kampus atau organisasi, kamu bisa menginisiasi diskusi soal isu yang berkaitan dengan hal ini. Kalau kamu punya followers, pakai kanal digitalmu untuk menyebarkan info yang benar. Kalau kamu punya waktu dan hati, kamu bisa jadi bagian dari gerakan komunitas atau lembaga yang sudah bergerak dalam isu ini, juga menjadi duta muda yang membawa terang di tengah praktik kejahatan yang kerap tersembunyi. 

Tanggal 30 Juli, dunia mengingat para korban. Tapi kita tidak boleh berhenti pada ingatan. Kita harus bergerak dengan kesadaran, dengan informasi, dan dengan solidaritas. Karena perdagangan orang bukan hanya soal hukum atau kriminalitas. Ini soal kemanusiaan, soal martabat kita semua. Kemudian kita perempuan muda, mahasiswa, remaja, anak berhak hidup dengan kondisi yang aman. Kita tidak diciptakan untuk diperjualbelikan. Kita diciptakan untuk tumbuh, bermimpi, dan mewujudkan masa depan. Maka jangan sampai kita tertipu mimpi. Waspada, jaga diri, dan mari bergandengan tangan untuk melawan perdagangan manusia. 

Referensi

IOM Indonesiam (Agutus, 2024). Hari Dunia Anti Perdagangan Orang 2024: Menciptakan Lingkungan yang Aman dan bebas dari Perdagangan Orang, diakses pada 5Agustushttps://indonesia.iom.int/id/news/hari-dunia-anti-perdagangan-orang-2024-menciptakan-lingkungan-migrasi-yang-aman-untuk-melawan-perdagangan-orang#:~:text=Untuk%20mengatasi%20masalah%20ini%2C%20IOM,Hari%20Dunia%20Anti%20Perdagangan%20Orang).

Profil singkat: Hilmi Intan Bunga Yunita, seorang mahasiswi akhir Jurusan Studi Agama-Agama, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Bunga sangat menyukai dunia sosial, sering berkegiatan di ruang-ruang interfaith dan forum perempuan. Apalagi forum yang diadakan oleh PERCA, karena baginya di sanalah ruang aman dan nyaman tercipta.

Tinggalkan komentar

Sedang Tren