Sabtu, 09 Mei 2026 di Gadespace Pegadaian Lempuyangan
PERCA Resource Center for Women and Girls telah menyelenggarakan diskusi film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya sutradara perempuan Mouly Surya. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 9 Mei 2026, di Gadespace Pegadaian Lempuyangan, Kota Yogyakarta. Sekitar 25 peserta yang merupakan perempuan muda berusia 18–35 tahun yang berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti acara ini dengan antusias. Diskusi film ini merupakan salah satu rangkaian program “Dari Mata Perempuan: Belajar dan Berkarya dari Film-Film Karya Sutradara Perempuan Indonesia” yang diinisiasi oleh PERCA Resource Center for Women and Girls di DIY. Program ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 dari Dana Indonesiana, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber. Narasumber pertama adalah Debby Dwi Elsha, dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sekaligus anggota Komunitas dan Asosiasi Pengkaji Film Indonesia (KAFEIN), sedangkan narasumber kedua adalah Irma Pudyastuti, seorang ahli gender sekaligus staf SAPDA Yogyakarta
Acara diawali dengan sesi perkenalan dan check-in question untuk membangun kedekatan antar-peserta. Diskusi kemudian dimulai dengan jajak pendapat mengenai tanggapan peserta setelah menonton film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak. Setiap peserta menyampaikan pandangan dan refleksinya terhadap berbagai aspek film, mulai dari ketidakadilan dan ketimpangan relasi kuasa yang dialami tokoh-tokoh perempuan dalam film tersebut, konsep sinematografi, pengambilan gambar, hingga detail adegan yang merepresentasikan pengalaman perempuan. Pembahasan juga menyoroti bagaimana tokoh Marlina mempertahankan otoritas atas tubuh dan dirinya, serta upayanya mencari keadilan setelah mengalami kekerasan seksual.
Peserta mendiskusikan kondisi perempuan di Sumba, khususnya mereka yang tinggal di pedesaan dengan akses bantuan yang terbatas, serta bagaimana sistem hukum di Indonesia masih belum sepenuhnya mampu memberikan keadilan bagi korban kekerasan seksual. Selain itu, peserta juga menelaah bagaimana film ini menggambarkan kuatnya sistem patriarki dan kerentanan berlapis yang dialami perempuan Sumba. Salah satu peserta melihat kemiripan situasi yang dialami Marlina dengan tokoh Firdaus dalam novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi. Relasi antara Marlina dan Novi, Marlina dan Topan, serta interaksi Marlina dengan perempuan-perempuan di desa juga menjadi bahan diskusi yang menunjukkan bagaimana berbagai bentuk relasi tersebut berkelindan dalam struktur patriarki. Keberanian Marlina untuk bertindak, mempertanggungjawabkan tindakannya, dan tetap melaporkan kasus yang dialaminya kepada pihak berwenang menunjukkan bahwa ia tetap menjaga rasionalitasnya meskipun berada dalam situasi yang sangat traumatis. Pada akhirnya, film ini menghadirkan beragam perspektif baru yang membekas di benak peserta dan mendorong mereka untuk berdiskusi lebih mendalam bersama para narasumber.
Sesi Diskusi bersama Debby Dwi Elsha
Debby Dwi Elsha, dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta sekaligus anggota Komunitas dan Asosiasi Pengkaji Film Indonesia (KAFEIN), membuka diskusi dengan mengajak peserta merefleksikan perasaan mereka setelah menonton film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak.
Menurut Debby, film tersebut bukan termasuk film favoritnya karena meninggalkan kesedihan yang mendalam dan sulit dilupakan. Ia berpendapat bahwa penonton membutuhkan waktu untuk memulihkan diri (healing) setelah menyaksikan film ini. Namun demikian, justru karena disutradarai oleh seorang perempuan, film ini terasa sangat kuat secara emosional dan sarat makna.
Debby menjelaskan bahwa secara struktur naratif, film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak terbagi ke dalam empat babak utama yang menggambarkan perjalanan Marlina sebagai penyintas kekerasan seksual.
Babak Pertama: The Robbery
Babak pertama menampilkan bagaimana tubuh perempuan kerap dipandang sebagai wilayah yang dapat dikuasai oleh laki-laki, terutama ketika perempuan berada dalam posisi yang dianggap rentan secara sosial, seperti menjadi janda.
Relasi kuasa laki-laki dalam film ini tidak ditampilkan secara eksplisit melalui kekerasan yang meledak-ledak, melainkan hadir secara halus dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini tampak ketika Markus datang ke rumah Marlina dengan sikap yang tampak biasa, seolah bertamu, tetapi sebenarnya dengan niat untuk merampok dan memperkosanya.
Menurut Debby, pendekatan semacam ini merupakan salah satu kekhasan film yang disutradarai oleh perempuan. Ketegangan dibangun melalui suasana yang subtil dan ketidaknyamanan emosional, bukan melalui adegan konfrontatif yang eksplosif.
Babak Kedua: The Journey
Babak ini menyoroti trauma pasca-kekerasan seksual yang dialami Marlina. Selain harus menghadapi luka batin, ia juga berhadapan dengan kesulitan memperoleh perlindungan hukum dan dukungan sosial.
Debby menekankan bahwa film ini tidak bergantung pada dialog yang verbal. Tatapan Marlina menjadi medium utama untuk menyampaikan kebingungan, ketakutan, dan keterasingannya. Meskipun penggunaan musik sangat minimal, suasana film tetap berhasil membangun emosi yang kuat dan menggambarkan kesepian yang dialami Marlina.
Babak Ketiga: The Confession
Babak ini menunjukkan tumbuhnya keberanian dan agensi Marlina. Salah satu adegan yang menjadi sorotan adalah ketika Marlina datang ke kantor polisi untuk melaporkan kekerasan yang dialaminya.
Peserta kegiatan merasa kesal melihat sikap aparat yang tampak acuh tak acuh, bahkan tetap bermain pingpong ketika Marlina datang. Namun, menurut Debby, adegan ini justru menegaskan keberanian Marlina untuk tetap memperjuangkan keadilan, meskipun ia harus berhadapan dengan sistem yang tidak responsif terhadap pengalaman korban.
Babak Keempat: The Birth
Babak terakhir menampilkan lahirnya keberdayaan perempuan, solidaritas antar-sesama perempuan, dan harapan akan masa depan yang lebih bebas dari kekerasan.
Tokoh Novi digambarkan sebagai perempuan yang pada awalnya menyesuaikan diri dengan norma-norma sosial yang berlaku. Namun, pada babak ini ia menunjukkan keberanian untuk mengambil sikap, mengabaikan tuntutan suaminya, dan berpihak kepada Marlina.
Adegan penutup, ketika Marlina dan Novi mengendarai sepeda motor dengan latar hamparan sabana Sumba, dimaknai Debby sebagai simbol perjuangan perempuan dalam menghadapi struktur sosial yang begitu luas. Di tengah bentang alam yang besar, perempuan tampak sebagai sosok kecil, tetapi tetap bergerak maju dengan kekuatan dan solidaritas yang mereka bangun bersama.
Kekhasan Mouly Surya dalam Perspektif Female Gaze
Salah satu kekuatan utama Mouly Surya sebagai sutradara adalah kemampuannya menempatkan perempuan bukan sebagai objek pandangan laki-laki (male gaze), melainkan sebagai subjek utama yang memiliki perspektif, kemarahan, trauma, serta kuasa atas tubuh dan kehidupannya sendiri. Dalam film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak”, Mouly Surya menghadirkan pendekatan yang kuat melalui perspektif female gaze, yaitu cara bercerita yang berpusat pada pengalaman emosional dan subjektivitas perempuan.
Berikut beberapa kekhasan Mouly Surya sebagai sutradara:
- Bahasa visual yang tenang
Marlina digambarkan sebagai tokoh yang tidak banyak berbicara dan jarang mengungkapkan perasaannya secara verbal. Emosi tokoh lebih banyak disampaikan melalui tatapan, gestur, dan ekspresi tubuh.
- Penggunaan simbol yang kuat
Potongan kepala Markus menjadi simbol kemenangan Marlina atas pelaku kekerasan seksual yang dialaminya, sekaligus penanda perlawanan terhadap dominasi patriarki.
- Paduan unsur emosional dan politis
Film ini tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga menyampaikan kritik sosial terhadap ketidakadilan gender dan kekerasan terhadap perempuan.
- Perempuan sebagai pusat narasi
Cerita sepenuhnya dibangun dari sudut pandang Marlina. Penonton diajak memahami pengalaman batin tokoh tanpa menghadirkan unsur voyeuristik, bahkan dalam adegan kekerasan seksual.
- Penggabungan feminisme dan genre western
Mouly Surya mengadaptasi unsur-unsur film western—seperti lanskap luas, perjalanan, duel, kesunyian, dan balas dendam—ke dalam konteks Indonesia, khususnya Sumba. Pendekatan ini dikenal sebagai satay western. Melalui strategi ini, genre yang identik dengan maskulinitas diubah menjadi ruang untuk menampilkan perjuangan perempuan.
- Penggunaan kesunyian dan tempo lambat
Ritme film yang tenang justru memperkuat ketegangan emosional. Pendekatan semacam ini menuntut proses pembacaan naskah dan pembangunan chemistry antar-pemeran yang sangat kuat.
- Visual simbolik dan artistik
Ruang-ruang kosong dan bentang alam yang luas menggambarkan isolasi, kesepian, dan minimnya empati sosial terhadap pengalaman perempuan.
- Representasi perempuan yang kompleks
Tokoh-tokoh perempuan ditampilkan secara manusiawi dan berlapis. Percakapan antara Marlina dan Novi, misalnya, menghadirkan obrolan yang intim dan dekat dengan pengalaman keseharian perempuan.
- Kritik sosial yang halus tetapi tajam
Film ini mengkritik budaya patriarki, lemahnya perlindungan hukum, normalisasi kekerasan seksual, dan ketidakpedulian masyarakat terhadap korban. Kritik tersebut disampaikan secara subtil, tanpa esan menggurui.
- Pemanfaatan gaya koboi sebagai strategi simbolik
Tokoh Marlina digambarkan seperti sosok koboi dalam film western klasik: seorang figur yang melakukan perjalanan, menghadapi ancaman, dan menuntut keadilan. Namun, pengalaman yang diangkat tetap berakar pada realitas perempuan sebagai korban kekerasan berbasis gender.
Perspektif perempuan dalam film ini mengubah cara bercerita secara mendasar. Narasi berfokus pada pengalaman Marlina dalam memperjuangkan keadilan setelah mengalami kekerasan seksual. Mouly Surya menggunakan pendekatan yang intim dan reflektif, dengan membangun konflik melalui relasi emosional, tekanan sosial, pengalaman tubuh, ruang domestik, kesunyian, tatapan, memori, dan trauma. Melalui pendekatan tersebut, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak tidak hanya menjadi karya sinematik yang artistik, tetapi juga medium yang kuat untuk menyuarakan pengalaman dan perlawanan perempuan.
Diskusi bersama Irma Pudyastuti
Irma Pudyastuti, seorang ahli gender sekaligus staf SAPDA Yogyakarta, membuka sesi diskusi dengan menekankan pentingnya distress protocol setelah menonton film yang mengangkat isu kekerasan seksual. Menurutnya, film dengan tema pemerkosaan dapat memunculkan respons emosional yang kuat, sehingga peserta perlu memiliki ruang yang aman untuk mengelola perasaan dan refleksi yang muncul.
Diskusi kemudian berlanjut dengan pemaparan mengenai interseksionalitas dalam tokoh Marlina. Irma menjelaskan bahwa pengalaman perempuan tidak dapat dipahami hanya dari satu identitas atau satu bentuk ketertindasan. Keragaman situasi sosial yang dihadapi perempuan membuat mereka rentan terhadap penindasan yang berlapis.
Melihat Perempuan dalam Perspektif Interseksionalitas
Kerentanan perempuan perlu dipahami melalui berbagai identitas dan posisi sosial yang saling beririsan, seperti gender, etnisitas, agama, disabilitas, usia, status ekonomi, tingkat pendidikan, dan wilayah tempat tinggal. Kombinasi dari berbagai faktor tersebut dapat memperkuat posisi rentan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, Marlina tidak hanya digambarkan sebagai perempuan, tetapi juga sebagai janda yang tinggal di wilayah pedesaan dengan akses terbatas terhadap perlindungan hukum, layanan kesehatan, dan dukungan sosial.
Matrix of Domination
Irma menggunakan konsep matrix of domination yang dikembangkan untuk menjelaskan bahwa penindasan bekerja melalui jaringan kekuasaan yang saling berkaitan. Ras, kelas, gender, orientasi seksual, agama, dan etnisitas memengaruhi bagaimana kekerasan terjadi, sekaligus menentukan bagaimana korban merespons pengalaman tersebut.
Konsep ini membantu peserta memahami bahwa korban kekerasan seksual sering kali tidak berani melapor bukan semata-mata karena rasa takut, tetapi juga karena adanya tekanan sosial, budaya, dan struktural yang membatasi pilihan mereka.
Budaya Lokal dan Kerentanan Perempuan
Diskusi juga menyoroti bagaimana budaya lokal dapat menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rentan. Misalnya, kata Irma, dalam konteks masyarakat Sumba Timur, praktik belis kerap dimaknai sebagai simbol bahwa perempuan “dibeli”, sehingga memperkuat relasi kepemilikan atas tubuh dan kehidupan perempuan.
Selain itu, perempuan juga menanggung beban sosial akibat ketimpangan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan sumber daya ekonomi. Siklus hidup perempuan sering kali berkelindan dengan berbagai bentuk kekerasan, baik yang bersifat fisik, seksual, psikologis, maupun struktural.
Potret Kekerasan terhadap Perempuan
Irma mengingatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan masih menjadi persoalan yang sangat nyata. Berdasarkan data yang disampaikannya, sekitar satu dari empat perempuan mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.
Dalam film, kondisi tersebut tercermin melalui adegan ketika Novi melahirkan di rumah Marlina tanpa bantuan tenaga medis. Adegan ini menunjukkan terbatasnya akses perempuan terhadap layanan kesehatan yang layak, terutama di wilayah pedesaan.
Di sisi lain, film ini juga menampilkan kuatnya solidaritas antar-sesama perempuan. Marlina dan Novi saling mendukung, berbagi pengalaman, dan membantu satu sama lain tanpa saling menghakimi. Relasi ini menjadi gambaran penting bahwa dukungan dari sesama perempuan dapat menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi kekerasan dan ketidakadilan.
Simpulan
Diskusi film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly Surya menghadirkan ruang refleksi yang kaya mengenai pengalaman perempuan dalam menghadapi kekerasan, ketidakadilan, dan struktur patriarki. Melalui perspektif sinematik yang dibedah oleh Debby Dwi Elsha serta analisis gender yang disampaikan oleh Irma Pudyastuti, peserta diajak melihat bahwa film ini bukan sekadar kisah balas dendam, melainkan potret kompleks perjuangan perempuan untuk mempertahankan hidup dan merebut kembali kendali atas tubuhnya.
Secara visual, film ini memanfaatkan lanskap Sumba yang indah dan luas sebagai kontras terhadap realitas keras yang dialami perempuan. Di balik keindahan alam tersebut, terdapat cerita tentang kesepian, keterbatasan akses terhadap keadilan, serta minimnya perlindungan bagi korban kekerasan seksual. Mouly Surya menghadirkan perempuan sebagai subjek utama yang memiliki perspektif, trauma, kemarahan, dan agensi, sekaligus memadukan estetika sinematik yang tenang dengan kritik sosial yang tajam.
Diskusi juga menegaskan pentingnya melihat pengalaman Marlina melalui perspektif interseksionalitas. Kerentanan yang dialaminya tidak hanya berkaitan dengan gender, tetapi juga dengan statusnya sebagai janda, lokasi tempat tinggal yang terpencil, serta konteks sosial dan budaya yang memperkuat relasi kuasa. Dalam situasi ketika sistem hukum dan lingkungan sosial tidak memberikan perlindungan yang memadai, tindakan Marlina dapat dipahami sebagai bentuk pembelaan diri yang lahir dari kondisi yang telah mencapai titik batas.
Lebih jauh, film ini menunjukkan bahwa solidaritas antar-sesama perempuan menjadi sumber kekuatan yang penting. Hubungan Marlina dan Novi memperlihatkan bahwa dukungan, empati, dan keberanian untuk berpihak dapat membuka kemungkinan bagi perempuan untuk bertahan dan melawan.
Pada akhirnya, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak mengingatkan bahwa di tengah keindahan lanskap dan kekuatan visual sinematik, masih ada perempuan-perempuan yang berjuang dalam sunyi untuk mendapatkan rasa aman, pengakuan, dan keadilan.
Pada akhirnya, keadilan bagi perempuan masih menjadi perjalanan panjang.
Profil Penulis: Putri Adelia adalah seorang sarjana teater lulusan ISI Yogyakarta yang memilih jalan sebagai pembaca sekaligus pengkaji. Baginya, teater bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan ruang temu tempat teks sastra klasik, kritik gender, dan perenungan filsafat bertubrukan. Melalui ketertarikan interdisipliner ini, ia aktif mengeksplorasi bagaimana pemikiran kritis dapat diwujudkan dalam narasi pertunjukan.
(Email: putriadelia0174@percaforwomen/Instagram: @mbak.puad)
Ilustrasi: Oliena Ibrahim





Tinggalkan komentar