Pada hari Minggu, tanggal 14 Juni 2026, PERCA Resource Center for Women and Girls menyelenggarakan diskusi film keenam sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Program “Dari Mata Perempuan: Belajar dan Berkarya dari Film-Film Karya Sutradara Perempuan Indonesia”. Diskusi film kali ini diselenggarakan di Kolektif Coworking Space & CollaborAction, Ngaglik, Sleman, dan dihadiri oleh sekitar 25 perempuan muda peserta Program Dari Mata Perempuan.

Diskusi film kali ini mendiskusikan film berjudul Sehidup Semati (2024) yang disutradarai oleh sutradara perempuan Upi, dan melibatkan aktor-aktor papan atas Indonesia seperti Laura Basuki, Ario Bayu, Asmara Abigail, Lukman Sardi, dan lain-lain. Pemantik diskusinya adalah Naomi Srikandi, seorang penulis naskah dan sutradara teater dari Yogyakarta, dan Fitri Indra Harjanti, gender expert dari PERCA Resource Center for Women and Girls.

Film Sehidup Semati menceritakan tentang tentang seorang perempuan bernama Renata yang sejak kecil ditanamkan nilai-nilai bahwa perempuan harus patuh dan mengabdi pada suami serta harus mempertahankan rumah tangganya. Renata mendapatkan KDRT fisik dan psikis dari Edwin suaminya, dan bahkan Edwin berselingkuh dengan tetangga mereka, Ana, serta berniat meninggalkan Renata karena Ana hamil. Renata yang sama sekali tidak memiliki ruang aman dan support system kemudian mengalami gangguan kesehatan mental parah yang membuatnya terus berhalusinasi serta melakukan tindakan pembunuhan hanya agar suaminya tidak meninggalkannya. 

Film ini menggambarkan kompleksitas dinamika psikologis perempuan korban KDRT, dan bahwa KDRT adalah masalah serius yang bisa berdampak sangat fatal, baik bagi korban maupun bagi orang-orang di sekelilingnya. Bahwa nilai-nilai tentang bagaimana “menjadi perempuan” yang tertanam sejak kecil dan berkelindan dengan ketidakadilan gender serta ketimpangan relasi kuasa, semakin menambah kerentanan perempuan dan meniadakan perilaku mencari bantuan (help-seeking behaviour). 

Sehidup Semati Mengangkat Tema Kesendirian Perempuan Korban Kekerasan

Naomi membuka diskusi dengan mengajak peserta untuk mencoba membuat sinopsis film Sehidup Semati dan kemudian menggambarkan film Sehidup Semati dalam satu kata atau frasa. Jawaban peserta beragam, seperti rumah tangga, mati dalam asa, kekerasan domestik, aku dan tuntutanku, derita perempuan, dicintai dan mencintai, kesehatan mental, perlawanan perempuan, hegemoni patriarki, dan kesendirian. Dari hasil diskusi tersebut, Naomi menggarisbawahi bahwa bisa dikatakan tema film Sehidup Semati adalah “Kesendirian Korban: Kritik terhadap Dogma, Dampak Psikologis, dan Peringatan Sosial”.

Masih menurut Naomi, korban yang diceritakan dalam film ini adalah tokoh Renata (diperankan oleh Laura Basuki) yang mendapatkan KDRT dari suaminya Edwin (diperankan oleh Ario Bayu). Renata digambarkan sebagai sosok perempuan kota yang lemah lembut dan tumbuh dalam keluarga yang sangat taat beragama. Misi Renata adalah mempertahankan pernikahan dengan Edwin. Sementara Edwin digambarkan dingin dan keji terhadap Renata, meskipun latar belakang Edwin tidak terlalu digambarkan. Naomi juga memuji aktor-aktor dalam film ini yang sangat bagus sekali memerankan perannya masing-masing di film bergenre psychological thriller ini.

Dinamika Psikologis Kekerasan dalam Relasi Intim

Kemudian Fitri membuka diskusi dengan mengatakan bahwa yang dialami oleh Renata adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang merupakan kekerasan dalam relasi intim. Kekerasan dalam relasi intim ini, secara psikologis lebih membingungkan dan menyakitkan karena pelakunya adalah orang yang paling dekat dengan kita yang (bisa jadi) adalah orang yang paling kita cintai, dan bahkan berbagi hidup dengan kita dan memiliki banyak kenangan indah bersama. Ada satu kekhasan dalam kekerasan dalam relasi intim, yaitu apa yang disebut dengan siklus kekerasan. Artinya kekerasan itu tidak terjadi setiap saat, ada masa-masa tenang juga, bahkan ada masa-masa membahagiakan atau sangat membahagiakan. Siklus kekerasan terdiri dari fase bulan madu – konflik – kekerasan – permintaan maaf – pengejaran kembali – bulan madu. Hal ini membuat dalam hubungan yang penuh kekerasan pun ada masa-masa di mana korban terlihat sangat mesra dan bahagia bersama pelaku, yaitu ketika mereka sedang berada di dalam fase bulan madu. Masa bulan madu itu tidak pernah berlangsung lama, karena kekerasan akan kembali terjadi dan terjadi lagi. Adanya masa bulan madu bukan berarti hubungan penuh kekerasan ini layak untuk dijalani. 

Menurut Fitri, siklus kekerasan ini yang membuat korban sulit untuk meninggalkan pelaku atau untuk mencari bantuan. Dalam film Sehidup Semati hal tersebut berkelindan dengan nilai-nilai “menjadi perempuan” yang telah tertanam kuat dalam diri Renata, yaitu perempuan harus patuh dan taat pada suami, dan bahwa perempuan adalah pihak yang bertanggung jawab untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga, apapun bayarannya. Kelindan lain adalah dengan dinamika psikologis korban kekerasan yang terjebak di antara perasaan cinta, teror, dan harapan. Harapan bahwa suatu saat nanti pasangannya akan berubah dan tidak lagi melakukan kekerasan. Hal itu membuat perempuan korban yang mengalami kekerasan dalam jangka waktu yang lama menginternalisasi apa yang disebut dengan ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness), yaitu suatu kondisi psikologis di mana seseorang merasa pasrah dan percaya bahwa usahanya tidak akan mengubah keadaan, akibat terus-menerus mengalami situasi negatif di luar kendali. Hal ini memicu hilangnya motivasi dan penurunan kemampuan dalam mencari solusi (Martin Seligman, 1960).

Urutan Kejadian yang Membawa Renata Merebut Kembali Kedaulatannya dengan Cara yang Ekstrim

Naomi juga mengajak peserta untuk secara mendetail mengidentifikasi urutan kejadian yang dialami Renata dalam film Sehidup Semati. Dimulai dari latar belakang Renata kecil yang tumbuh dalam keluarga di mana ibunya mengalami KDRT dari ayahnya, namun ibunya tetap mengabdi pada suaminya dan mempertahankan rumah tangganya. Renata dewasa bertemu dan menikah dengan Edwin, laki-laki pilihannya, yang berubah menjadi pelaku KDRT dan berniat meninggalkannya demi Ana, Wanita Idaman Lain (WIL) yang telah hamil. Demi mencegah adanya perceraian yang sangat tabu bagi nilai-nilai yang diyakini Renata, Renata memilih untuk menghabisi Edwin dan Ana, hanya agar Edwin tidak bisa menceraikannya. Renata yang memiliki persoalan kesehatan mental dan kondisi psikologis yang buruk akibat kekerasan-kekerasan yang dialaminya pun hidup dengan halusinasi yang mewujud dalam kesehariannya. Demikian kisah dalam film ini dimulai.

Fitri mengatakan, salah satu dampak dari kekerasan dalam relasi intim adalah dampak kesehatan jiwa (gangguan psikologis) yang dialami korban, dari mulai ringan hingga berat. Dampak ini akan semakin diperparah ketika korban tidak memiliki sistem dukungan (support system) seperti halnya Renata dalam film Sehidup Semati. Renata sama sekali tidak memiliki sistem dukungan, ketika ia mengadu ke keluarganya, ibu dan kakaknya malah menyalahkannya. Ia juga dilarang oleh Edwin untuk keluar rumah sehingga ia tidak memiliki kenalan, apalagi teman. Satu-satunya teman Renata adalah sinetron di televisi yang ia hapalkan dialognya. Semua itu membuat Renata tidak percaya diri dan selalu membalas sapaan orang dengan dingin dan menunduk. 

Sistem Dukungan yang Dirindukan Perempuan Korban

Sistem dukungan kemudian didapatkan Renata ketika dalam halusinasinya ia memiliki tetangga perempuan yang kemudian menjadi sahabatnya. Tetangga itu bernama Asmara dan memiliki karakter, cara pandang, dan bahkan gaya berpakaian yang bertolak belakang dengannya. Asmara yang “disepakati” oleh peserta diskusi adalah alter ego Renata, banyak memperingatkan bahkan mengata-ngatai Renata agar Renata tidak pasrah saja dengan situasi kekerasan yang diterimanya. Asmara juga melakukan semua hal yang selama ini tidak berani Renata lakukan atas dasar nilai perempuan baik-baik dan istri solehah yang diyakininya. Renata juga banyak “membela” Renata dengan melindungi Renata dari orang-orang yang menyakitinya, meskipun pada akhirnya alter ego Renata ini ikut menghianati dirinya.

Beberapa peserta diskusi melontarkan keyakinannya bahwa seandainya Renata benar-benar memiliki Asmara dalam kehidupan nyatanya, seorang teman yang menjadi sistem pendukungnya, kemungkinan Renata tidak akan sampai pada pilihan ekstrim melakukan pembunuhan demi melindungi harga diri dan kedaulatannya. Sementara, peserta diskusi yang lain mengatakan, terkadang perempuan tidak memiliki pilihan lain dalam menyelamatkan dirinya selain dengan cara-cara yang ekstrim dan brutal. Selain itu, beberapa peserta juga merefleksikan kisah dalam Sehidup Semati dengan kehidupan pribadi mereka sebagai perempuan.

Di akhir diskusi, Naomi mengajak peserta untuk merenungkan apa manfaat atau dampak film Sehidup Semati bagi penonton, dan mengembalikan kepada peserta untuk menjawab apa nilai-nilai keberdayaan perempuan yang dibawa oleh karya film Sehidup Semati ini, sambil mengingatkan peserta kepada kutipan dari Permata Adinda (seorang jurnalis di Project Multatuli), yaitu: Apakah suatu produk budaya membawa percakapan baru, atau sekadar mengeksploitasi isu?

Profil Penulis: Fitri Indra Harjanti adalah seorang gender expert yang sudah menggeluti isu keadilan gender, feminisme, dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan selama lebih dari 15 tahun. Fitri juga adalah seorang penulis dan content creator yang memiliki hobby menonton film dan mengedit video. Fitri tinggal di sebuah desa yang tenang di Bantul – Yogyakarta bersama suami dan 7 kucing mereka. Fitri bisa dihubungi melalui akun Instagram @fitriindraharjanti.

Foto: Instagram/@sehidupsematifilm

Tinggalkan komentar

Sedang Tren