Pemutaran film keempat dalam rangkaian kegiatan Program “Dari Mata Perempuan: Belajar dan Berkarya dari Film-Film Karya Sutradara Perempuan Indonesia” berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026. Film “Laura dan Marsha” karya Dinna Jasanti menjadi karya pilihan yang didiskusikan bersama dua narasumber, yaitu Viola Alexsandra (seorang sutradara teater) dan Fitri Indra Harjanti (seorang pengamat gender sekaligus Direktur PERCA Resource Center for Women and Girls). 

Film Laura dan Marsha (2019) bercerita tentang persahabatan antara Laura dan Marsha. Film ini berlatarkan perjalanan jauh mereka ke Eropa. Sebagaimana ungkapan populer, “perjalanan jauh akan menunjukkan karakter asli seseorang”, perjalanan ini mengungkap pribadi keduanya secara lebih gamblang. Satu demi satu kisah kehidupan mereka terungkap, sekaligus menguji jalinan persahabatan mereka.

Dalam diskusi ini, Viola Alexsandra membongkar film karya Dinna Jasanti ini menggunakan pisau analisis female gaze. Diskusi dilanjutkan dengan paparan Fitri Indra Harjanti mengenai kekhasan persahabatan perempuan dalam hubungan Laura dan Marsha. Berikut uraian hasil diskusi:

Menerjemahkan Persahabatan Perempuan melalui Perspektif Female Gaze dalam Film Laura dan Marsha

Penerapan female gaze dalam film bertolak dari realitas bahwa jumlah sutradara laki-laki jauh lebih banyak daripada sutradara perempuan. Akibatnya, banyak alur cerita film yang diproduksi menggunakan lensa atau perspektif laki-laki dalam memandang dunia. Penceritaan dengan lensa laki-laki (male gaze) ini, menurut Viola Alexsandra, akan kurang tepat dalam memotret kehidupan perempuan ataupun menceritakan cara perempuan mengalami dunia. Dalam teknis proses pembuatan film, sutradara laki-laki juga dinilai sulit menerjemahkan pengalaman perempuan ke dalam instruksi teknis, apalagi jika mayoritas kru filmnya adalah laki-laki. 

Perlu dipahami bahwa female gaze bukan serta-merta kebalikan dari male gaze. Konsep ini bukan tentang membalik logika kuasa laki-laki dan objektifikasi perempuan menjadi kuasa perempuan dan objektifikasi laki-laki. Sebaliknya, female gaze berfokus pada pendefinisian ulang otonomi serta menjaga pengalaman perempuan yang otentik–termasuk perasaan dan nalurinya–untuk diterjemahkan dalam karya film.

Dalam film Laura dan Marsha, Sutradara Dinna Jasanti berhasil menerjemahkan kehidupan perempuan melalui lensa female gaze dengan sangat baik. Porsi besar dalam alur cerita film ini merupakan perjalanan Laura dan Marsha ke Eropa. Pengalaman otentik perempuan disematkan secara apik dalam setiap adegan, memperlihatkan kekayaan eksplorasi sutradara mengenai cara perempuan menjalani perjalanan jauh. Perempuan menavigasikan perjalanan jauh, berbeda dengan laki-laki; saat kendaraan bermasalah, saat tersesat di tengah hutan, bagaimana meminta dan menerima pertolongan kepada orang yang tidak dikenal, dan bagaimana mengelola konflik antar-perempuan dalam lingkungan asing.

Selain itu, Dinna Jasanti memperlakukan subjek perempuan secara multidimensi dan tidak menjebak mereka dalam kotak stereotip yang kaku. Dua tokoh utama, Laura dan Marsha, dipotret dengan sangat bernuansa. Meskipun awal film memperlihatkan kontras yang jelas–Laura diceritakan kaku dan feminin, sedangkan Marsha tomboy dan bebas–seiring berjalannya alur, Dinna mampu mengaburkan garis pemisah tersebut. Laura bersikap feminin dan kaku karena dibentuk oleh masa lalunya, sementara Marsha memilih tampil tomboy dan bebas demi mengisi peran pelindung agar Laura bisa menjadi dirinya sendiri. Marsha memendam rapuhnya agar bisa terlihat kuat demi Laura. Cerita kehidupan kedua sahabat ini digambarkan saling bertaut dan saling mempengaruhi yang membuat penonton bisa merasa persahabatan keduanya nyata.

Menurut Viola Alexsandra, perspektif female gaze tidak terbatas mewujud pada alur cerita atau plot, melainkan juga mewujud pada teknis pengambilan gambar. Dalam film ini, Dinna Jasanti mengarahkan kamera dengan pembagian posisi pengambilan gambar (shoot) yang adil dan seimbang antara Laura dan Marsha. Teknik ini mengisyaratkan hubungan yang setara dan tanpa hierarki di antara kedua sahabat tersebut. Porsi ekspresi keduanya pun diberikan secara adil, yang secara tidak langsung mengajak penonton menggugat kembali label-label yang terlanjur mereka sematkan pada Laura maupun Marsha. 

Meski menilai Dinna Jasanti piawai, Viola menyampaikan bahwa tidak jarang pula sutradara perempuan gagal mengaplikasikan lensa female gaze. Hal ini terjadi karena dominasi male gaze telah mengakar kuat dalam industri perfilman Indonesia. Seringkali reproduksi male gaze yang dilakukan sutradara perempuan terjadi karena dorongan pola produksi industri film di Indonesia yang telah berjalan dalam waktu yang lama, secara lebih jauh tentang sistem visual; serta bagaimana panggung atau kamera memperlakukan tubuh perempuan. 

Sebagai perempuan, baik sebagai pelaku dalam industri perfilman atau konsumen, kita bisa menyuarakan dan memprotes normalisasi male gaze. Akan tetapi, juga harus diikuti oleh refleksi dan kontemplasi untuk bisa mewujudkan perubahan yang berarti.

Hubungan Persahabatan dengan Karakter Persaudaraan Perempuan atau Sisterhood

Menurut Gender Expert, Fitri Indra Harjanti, melalui Film Laura dan Marsha, sutradara Dinna Harjanti mencoba menceritakan persahabatan perempuan dalam nuansa persaudaraan yang hangat (sisterhood). Film ini berbeda dengan film lain yang menggambarkan persahabatan perempuan yang kompetitif dan saling menyalahkan atau menghakimi. 

Laura dan Marsha digambarkan saling menguatkan dalam menghadapi persoalan hidup masing-masing. Banyak masalah mereka yang sangat lekat dengan pengalaman hidup kolektif perempuan: Marsha mendapatkan stigma karena belum menikah, Laura harus menghadapi stigma menjadi janda, Laura harus menjadi single mother karena suaminya meninggalkannya, Marsha menghadapi stigma less a woman karena telah menjalani pengangkatan rahim, dan Laura mengalami kekerasan psikis oleh suami yang meninggalkannya tanpa penjelasan. 

Dalam menghadapi situasi khas seperti ini, persahabatan perempuan yang terlepas dari pengaruh budaya patriarki akan menjadi ruang aman perempuan untuk pulih. Fitri menegaskan, seringkali yang bisa menolong dan menyelamatkan perempuan dari berbagai macam kekerasan dan ketidakadilan adalah dirinya sendiri yang mendapatkan dukungan dari perempuan lain.

Demikian gambaran singkat hasil diskusi film keempat dari serial diskusi film karya sutradara perempuan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Program “Dari Mata Perempuan: Belajar dan Berkarya dari Film-Film Karya Sutradara Perempuan Indonesia” yang diselenggarakan oleh PERCA Resource Center for Women and Girls dengan dukungan pendanaan dari Program Layanan Produksi Kegiatan Kebudayaan untuk Kategori Sinema Indonesia dalam Lingkup Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 dari Dana Indonesiana, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Profil Penulis: Rini Rahmadhani adalah perempuan yang memimpikan setiap perempuan bisa belajar, bekerja, dan bermain dengan antusias dan aman. Dalam upayanya mewujudkan hal itu, ia aktif belajar feminisme dan terlibat dalam kerja-kerja penghapusan kekerasan berbasis gender. Untuk terhubung dengan Rini bisa melalui akun instagram @camerarini atau email rinrinirahma@gmail.com

Foto: dok. Bioskop Online/Laura dan Marsha

Tinggalkan komentar

Sedang Tren