Pada hari Sabtu, 15 Agustus 2026, PERCA Resource Center for Women and Girls menyelenggarakan kegiatan Mini Bootcamp bertajuk BERANI! Bersama Hentikan Kekerasan Seksual di Kampus dengan peserta mahasiswa dan mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dari berbagai jurusan dan program studi, seperti Seni Murni, Fotografi, Teater, Tata Kelola Seni, Animasi, Pendidikan Musik, Konservasi Seni, Desain Komunikasi Visual, Desain Interior, Kriya Tekstil, dan lain-lain.
Program BERANI! Bersama Hentikan Kekerasan Seksual di Kampus ini merupakan bagian dari Program GerakDampak Academy merupakan kolaborasi Indika Foundation dan PERCA Resource Center for Women and Girls untuk memberdayakan orang muda dengan kapasitas, motivasi, dan kesempatan untuk menjadi agen perubahan. Melalui program ini, PERCA mendampingi orang muda untuk secara aktif mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian dalam pemahaman dan aksi nyata di isu penghapusan kekerasan berbasis gender. Program ini terdiri dari pelatihan secara daring, tatap muka, dan implementasi proyek individu berkelanjutan dengan dampingan intensif oleh praktisi profesional.
Awal Kerja Sama PERCA dan Kampus ISI Yogyakarta

Kegiatan yang dihadiri oleh 23 peserta (16 perempuan dan 7 laki-laki) ini diselenggarakan di Ndorogiri Resto & Café, sebuah venue menarik dengan ruangan joglo indoor dan taman rimbun outdoor di kawasan Pleret, Bantul, tidak jauh dari Kampus ISI Yogyakarta. Mini Bootcamp kedua Program BERANI PERCA ini berkolaborasi dengan Kampus ISI Yogyakarta dengan Surat Perjanjian Kerja Sama yang langsung ditandatangani oleh Rektor ISI Yogyakarta.
Mini Bootcamp dimulai pada pukul 09.00 dengan perkenalan peserta dan panitia, perkenalan program, serta mendiskusikan harapan/motivasi peserta mengikuti kegiatan ini. Dilanjutkan dengan sambutan dan sedikit pengantar tentang situasi kasus-kasus kekerasan (khususnya kekerasan seksual) di kampus ISI Yogyakarta dari Ibu Megawati Atiyatunnajah, S.H., M.H., Ketua Satgas PPKPT Kampus ISI Yogyakarta, yang sekaligus menjadi simbol momen awal kerja sama antara PERCA dengan Satgas PPKPT Kampus ISI Yogyakarta dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di kampus, khususnya Kampus ISI Yogyakarta.
Aman Belum Tentu Damai
Selanjutnya, fasilitator dari PERCA membawakan materi tentang Proses Pembelajaran Orang Dewasa, Konsep Dasar Experiential Learning, serta Pendekatan Refleksi. Dilanjutkan dengan materi Good Global Citizens yaitu tentang peran orang muda dalam menciptakan perdamaian positif di dunia, dimulai dari lingkungan terkecil mereka, yaitu kampus mereka. Salah satu peserta mengatakan bahwa perdamaian adalah ”satu kondisi di mana tidak adanya kekerasan, tidak adanya satu bentuk diskriminatif, dan di mana disitu terbangun rasa nyaman, aman, dan kepercayaan antara satu sama lain,” sementara peserta yang lain menimpali bahwa perdamaian adalah “ketika kita sebagai manusia mampu menerima perbedaan manusia lain sebagai manusia, ketika kita bisa menerima perbedaan kita dengan manusia lain”.
Peserta yang lain lagi juga sempat mengingatkan bahwa tidak semua kondisi aman itu berarti perdamaian. Menurutnya: “Belum tentu damai itu aman. Soalnya ada istilah diamankan tapi tidak aman. Jadi, tidak semua kata aman itu berarti damai. Banyak teman-teman yang diamankan, diamankan sama polisi itu, tapi tidak aman mereka.” Fasilitator kemudian melanjutkan dengan menjelaskan konsep perdamaian negatif dan perdamaian positif menurut Johan Galtung.

Salah satu peserta laki-laki mengaitkan diskusi tentang perdamaian positif dan perdamaian negatif ini dengan pengalaman personalnya, yaitu ketika ia terpaksa mengakui tuduhan yang sebenarnya tidak ia lakukan hanya demi untuk mendamaikan situasi, namun kemudian menyesalinya karena merasa diperlakukan tidak adil.
Fenomena Blame the Victim
Selanjutnya fasilitator meminta pendapat peserta tentang berita-berita tentang kekerasan seksual yang banyak berseliweran di media-media online atau timeline media sosial. Salah satu peserta perempuan yang menceritakan bahwa dirinya adalah penyintas kekerasan seksual mengatakan bahwa ia sudah malas dan tidak tahan melihat berita-berita semacam itu mengingat kasusnya sendiri yang juga mentok penanganannya, sehingga melihat berita-berita tentang kasus kekerasan seksual hanya membuatnya semakin patah semangat saja.
Peserta perempuan yang lain yang juga seorang penyintas kekerasan seksual menyoroti budaya reviktimisasi atau blame the victim yang banyak terjadi termasuk di media sosial, yaitu ketika korban speak up tentang pengalaman kekerasan seksualnya dan malah disalahkan atau mendapat hate comments di media sosial. Peserta perempuan yang lain lagi mengatakan bahwa kekerasan, termasuk kekerasan seksual seringkali terjadi di lingkungan yang menurut kita paling aman dengan pelaku adalah orang-orang terdekat kita.
Fasilitator mengingatkan bahwa dalam upaya pendampingan kasus kekerasan seksual, hal yang paling krusial adalah pemulihan serta penguatan korban. Memviralkan kasus mungkin bagus sebagai upaya advokasi, tetapi harus berdasarkan kemauan dan kesiapan korban, karena media sosial itu merupakan media pertempuran tersendiri.
Kurikulum HARMONI: Orang Muda Memimpin Perubahan
Fasilitator kemudian melanjutkan dengan pentingnya peran orang muda dan juga bagaimana orang muda bisa menjadi good global citizens atau warga dunia yang baik yang sadar dan punya pengetahuan tentang isu lokal, nasional, dan global; memiliki empati dan peduli; serta memiliki keinginan untuk berkontribusi secara aktif terhadap dunia. Fasilitator menjelaskan bahwa karakter utama good global citizens adalah berpikir lebih tajam (kritis memahami keterhubungan isu lokal dan global); merasa lebih dalam (berempati berdasarkan hak asasi manusia, serta menghargai dan menghormati keberagaman); serta bertindak lebih benar (menerapkan kemampuan, nilai, keyakinan, dan sikap yang peduli terhadap kebaikan bersama).
Selanjutnya fasilitator menjelaskan bahwa konsep yang bisa membantu individu untuk menjadi Good Global Citizen, terdiri dari 7 nilai dan kemampuan utama, yang disingkat dengan HARMONI atau Hargai keberagaman, Aksi nyata, Regulasi emosi, Membangun compassion, Open minded, Ngenal diri, dan Integritas. Ketika orang muda memiliki nilai dan kemampuan Ngenal diri, Regulasi emosi, dan Open minded, maka dia akan bisa memimpin dirinya. Ketika ditambah dengan nilai dan kemampuan Membangun compassion dan Hargai keberagaman, makan dia akan bisa memimpin orang lain, dan ketika dilengkapi lagi dengan nilai dan kemampuan Aksi nyata dan Integritas, maka dia akan bisa memimpin untuk perubahan.

Selanjutnya, fasilitator membagi peserta menjadi 3 kelompok dan meminta masing-masing kelompok mendiskusikan nilai dan kemampuan HARMONI dalam konteks kampus mereka, dengan panduan pertanyaan apa saja isu/masalah terkait nilai tersebut yang terjadi di Kampus ISI, serta apa yang perlu kita lakukan untuk merawat nilai tersebut di Kampus ISI.
Kelompok 1 yang membahas tentang nilai Hargai keberagaman dan Regulasi emosi menyoroti tentang keragaman suku, etnis, agama, dan orientasi seksual di kalangan mahasiswa Kampus ISI dan bahwa masih ada praktik-praktik diskriminasi berdasarkan hal tersebut. Untuk Regulasi emosi, mereka menyarankan agar orang muda mengekspresikan, memvalidasi, dan merayakan perasaannya, serta meminta bantuan. Kelompok 1 ini memberi judul presentasinya dengan pernyataan You Can’t Love Somebody Else if You Hate Yourself.
Kelompok 2 membahas tentang nilai dan kemampuan Membangun compassion dan Open minded, sementara kelompok 3 membahas tentang nilai dan kemampuan Ngenal diri dan Integritas. Setelah membahas tentang persoalan terkait membangun compassion dan open minded yang ada di Kampus ISI, kelompok 2 merekomendasikan bahwa hal yang bisa dilakukan di kampus terkait kedua nilai tersebut adalah semua yang ada di kampus mesti memiliki pengetahuan tentang keberagaman, menghormati dan memahami perbedaan, inklusivitas dan keterbukaan, keberpihakan terhadap korban, empati dan simpati, serta mengambil peran dalam penyelesaian suatu masalah.
Sementara itu kelompok 3 mengidentifikasi beberapa persoalan di kampus terkait nilai dan kemampuan Ngenal Diri dan Integritas, seperti perubahan kebiasaan karena lingkungan sosial (FOMO), pelatihan mental dari senior dengan cara yang salah, terpaksa harus bekerja sampai pagi untuk membantu senior, adanya stigma secara sosial, dan dipekerjakan keahlian seninya tanpa dibayar. Rekomendasi yang diberikan oleh kelompok 3 adalah tidak apa-apa ketika kemudian tidak diterima di angkatan, boleh cut off orang lain jika diperlukan, menjadi diri sendiri, mengenali budaya satu sama lain tanpa terpaksa masuk ke budaya orang lain, serta bekerja profesional dengan ada kesepakatan rate card.
Relasi Kuasa Gender
Sebelum makan siang, fasilitator menjelaskan tentang materi belajar memetakan masalah dengan menggunakan pohon masalah, di mana batang pohon menyimbolkan masalah utama (konflik yang terjadi dan masalah yang tampak); daun-daun menyimbolkan konsekuensi serta gejala yang tampak (dampak, efek, kerugian); dan akar pohon menyimbolkan akar masalah (alasan mendasar atau penyebab mengapa masalah terjadi).
Setelah makan siang, Mini Bootcamp dilanjutkan dengan ice breaking dan diskusi tentang relasi kuasa gender yang dilakukan melalui permainan “game maju mundur” yang dilakukan di taman outdoor yang rimbun. Dalam permainan ini, peserta bisa melihat bahwa secara umum laki-laki lebih banyak mendapatkan keistimewaan dan lebih sedikit mendapatkan pembatasan, sebaliknya secara umum perempuan lebih banyak mendapatkan pembatasan dan lebih sedikit mendapatkan keistimewaan. Hal ini dipengaruhi oleh sistem, nilai, budaya, dan norma gender patriarki yang berada di luar kontrol kita semua. Dibahas juga bagaimana perempuan membutuhkan langkah yang lebih banyak dan upaya yang lebih besar untuk mencapai titik yang sama dengan laki-laki, sehingga diperlukan apa yang kita sebut dengan tindakan afirmatif atau affirmative action.
Bentuk dan Spektrum Kekerasan Seksual
Selanjutnya, fasilitator mengajak peserta untuk mendiskusikan tentang pengertian kekerasan seksual, serta 15 bentuk kekerasan seksual menurut Komnas Perempuan, dilanjutkan dengan diskusi mengenai dampak-dampak kekerasan seksual, baik bagi korban, keluarga korban, lingkungan korban, maupun dampak bagi pelaku kekerasan dan bagi masyarakat luas. Kemudian peserta pun diajak untuk menonton film pendek berjudul “Share Link Dong” produksi Program Girls Power PERCA Resource Center for Women and Girls tahun 2023 yang mengangkat kisah nyata tentang kekerasan seksual dalam bentuk NCII (Non-Consensual Intimate Imagery) atau penyebaran gambar dan video intim tanpa persetujuan, dengan dinamika siklus kekerasan yang terjadi dalam kekerasan dalam relasi intim (pacaran).
Setelah menonton film pendek berdurasi 14 menit tersebut, fasilitator mengajak peserta untuk mendiskusikan film tersebut. Peserta menyoroti soal candaan seksis yang merupakan salah satu bentuk kekerasan seksual yang sekaligus berpotensi berkembang menjadi bentuk-bentuk kekerasan seksual yang lebih lanjut. Selain itu, peserta juga menggarisbawahi bahwa alih-alih meminta perempuan untuk jangan bodoh dan bisa menjaga diri, lebih baik kita mengajari laki-laki untuk tidak melakukan kekerasan seksual dalam bentuk apapun. Fasilitator juga meminta peserta berandai-andai jika tokoh utama dalam film yang menjadi korban kekerasan seksual adalah teman mereka, apa yang akan mereka lakukan dalam mendampingi teman mereka tersebut, serta apa upaya yang bisa mereka lakukan dalam pencegahan seksual, khususnya di kampus mereka.

Rencana Tindak Lanjut
Fasilitator meminta peserta menuangkan ide atau rencana aksi mereka terkait apa yang bisa dilakukan untuk terlibat secara konkret dalam pencegahan kekerasan seksual di kampus, baik secara individu maupun bersama komunitas/organisasi peserta dalam bentuk esai sepanjang 300 hingga 750 kata, dan mengirimkannya kepada panitia untuk kemudian akan didukung dan ditindaklanjuti sebagai rencana tindak lanjut peserta dalam upaya pencegahan kekerasan seksual di kampus mereka, yaitu Kampus ISI Yogyakarta.
Kegiatan Mini Bootcamp Program BERANI! Bersama Hentikan Kekerasan Seksual di Kampus ditutup dengan evaluasi kegiatan dan berfoto bersama, dengan niat dan komitmen bersama bahwa pertemuan hari ini hanya merupakan awal atau langkah pertama untuk upaya-upaya selanjutnya dalam pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di Kampus ISI Yogyakarta.
Fitri Indra Harjanti





Tinggalkan Balasan